Wednesday, 10 May 2017

Teori Kebutuhan Abraham Maslow

Abraham Maslow sering dianggap sebagai bapak psikologi humanis, dan teorinya menjadi salah satu landasan bagi gerakan pendidikan humanis. Yang sangat populer adalah teori kebutuhan maslow. Pada teori ini maslow melakukan penelitian besar dan mengkonstruksi hirarki atau tingkatan kebutuhan manusia secara umum. Teori kebutuhan maslow menjadi salah satu teori yang banyak digunakan untuk menganalisis bagaimana permasalahan pendidikan dan bagaimana seharusnya pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan manusia secara utuh.

Maslow membagi tingkatan kebutuhan manusia menjadi dua kelompok utama yaitu kebutuhan perkembangan (growth needs) dan kebutuhan defisiensi (deficiency needs). Apabila Kebutuhan-kebutuhan yang tergolong dalam kebutuhan defisiensi tidak terpenuhi maka akan memberi manusia energi untuk memenuhinya. Dimulai dari kebutuhan paling dasar (kebutuhan fisik) hingga kebutuhan lain di tingkatan atasnya. Jika kebutuhan bawah belum terpenuhi maka menurut maslow manusia tidak akan beranjak untuk memenuhi kebutuhan di atasnya.

Kelompok kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan perkembangan (growth needs). Kebutuhan untuk mengaktualisasi potensi diri secara utuh (karena itu disebut juga kebutuhan aktualisasi diri). Berbeda dengan kebutuhan defisiensi yang memiliki batas pemenuhan (jika batas tersebut telah dipenuhi maka energi untuk memenuhinya berkurang dan kita akan beralih ke level di atasnya), kebutuhan perkembangan tidak memiliki batas sepanjang hidup manusia.

Salah satu kritikan atas teori maslow adalah mengenai perpindahan dari kebutuhan defisiensi ke kebutuhan perkembangan. Menurut maslow manusia baru akan berupaya untuk memenuhi kebutuhan perkembangan jika kebutuhan defiensinya telah terpenuhi. Namun banyak fakta yang menunjukkan adanya manusia-manusia yang telah mencapai aktivitas pemenuhan kebutuhan perkembangan walaupun kebutuhan defiensinya belum terpenuhi. Misalnya, banyak orang-orang miskin yang mencintai ilmu pengetahuan atau mencari jati diri melalui jalan spiritual.

Penerapan teori kebutuhan maslow dalam bidang pendidikan misalnya adalah dengan memperhatikan bagaimana pemenuhan kebutuhan para siswa secara utuh. Guru atau sekolah tidak hanya memperhatikan pelajar sebagai satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa. Bagaimana kondsi fisik kelas, fisik siswa, pertemanan di antara mereka, penghargaan yang tulus dari guru, merupakan faktor-faktor yang juga mendukung hasil belajar siswa.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Habibi dan Setiawan (2017) terdapat temuan bahwa makna sekolah bagi anak-anak ternyata lebih dominan sebagai tempat untuk mencari teman dan menyenangkan orang tua mereka, dari pada sebagai tempat belajar. Dari kenyataan ini seharusnya guru dan sekolah juga memperhatikan bagaimana kebutuhan-kebutuhan non akademis juga dapat didukung. Misalnya adalah dengan memberikan suatu kondisi pertemanan yang menyenangkan baik untuk bergaul maupun belajar. Juga saling mengintimidasi antar siswa harus dapat dicegah.

Referensi:
Eggen, Paul. Kauchak, Don. (2010). Educational Psychology: Windows on Classroom. Edisi 8. Upper Saddle River: Pearson Education, Inc.

Habibi. Setiawan, Caly. (Mei, 2017). The Meaning of School from Dropout’s View Point (A Phenomenological Study). Makalah disajikan dalam International Conference on Educational Research and Innovation (ICERI), di Universitas negeri Yogyakarta.

1 comment: